Cari Blog Ini

Selasa, 08 Juli 2014

Amanat






Pada tanggal 7 Juli 2014 diadakan pemilihan ketua umum Himpunan Mahasiswa Fisika Universitas Palangka Raya, dan aku diberikan amanat untuk melanjutkan pemerintahan. Harapan ke depannya semoga saya dapat menjalankan amanat ini sebaik mungkin, menjaga kesolidan anggota, dan tentunya membawa oganisasi Himafis Unpar ini menjadi wadah kreatifitas mahasiswa fisika Unpar pada khususnya.

Semoga apa yang dilakukan nantinya dapat membaikkan orang lain dan diriku sendiri. Svaha..

Rabu, 04 Juni 2014

Sensitifitas dalam Komunikasi

Ketertarikan pertama pada suatu individu (manusia) adalah komunikasi yang nyambung, dan harmonis. Biar fisik cantik atau ganteng, jika tanpa didukung oleh kemampuan mengelola komunikasi yang harmonis maka akan percuma, kita akan kekurangan teman.

Keharmonisan komunikasi membuat nyaman hati masing-masing. Jangan membuat pertanyaan atau pernyataan yang mengandung unsur sensitifitas. Tahukah kamu bahwa pertanyaan yang mengandung unsur sensitifitas membuat lawan bicara kita merasa tersudutkan dan berpikir berulang kali untuk melanjutkan komunikasi yang intens dengan kita.

Bercanda juga perlu diperhatikan, jangan bercanda yang berlebihan. Pikirlah sebelum mengucapkan percandaan. Karena sebelum kita mengatakan “itu hanya bercanda.” lawan bicara telah lebih dulu mencerna kata-kata tersebut sebagai sesuatu yang serius jika hal tersebut menyangkut hal-hal yang mengandung unsur sensitifitas.


Obrolan

Pada saat senja menjelang malam,  aku dan tetangga samping rumah ngobrol. Dari topik tentang kampus, hingga topik keluarga. Semuanya bertema penderitaan.
Aku bingung, apakah manusia cenderung senang menceritakan penderitaan atau kesenangan ya? Tapi biasanya orang yang senang menceritakan penderitaan adalah cenderung orang yang rendah hati.

Beginilah cerita tetanggaku tersebut.
“Dulu aku tidak melanjutkan kuliah selama setahun, setelah lulus SMA. Hatiku sangat sedih, hanya menangis yang bisa kulakukan. Megucilkan diri ke hutan, bekerja sebagai penambang emas. Usaha Sedot Amas bahasa bekennya. Tiap malam hanya kalut hati yang kurasakan. Teman-teman semuanya melanjutkan kuliah. Mereka menanyakan aku di mana kuliahnya. Ku jawab, di Akper. Artinya adalah akademi persedotan. Arti lainnya adalah akademi pertambangan (Nyedot Emas). Sampai pada akhirnya aku melanjutkan ke bangku kuliah pada tahun 2012. Meski pun dengan terpincang-pincang. Ibarat kata, kedua kaki tidak melangkah selayaknya, tertinggal satu. Di belakang, orang tua sebenarnya tidak mampu untuk membiayai, tujuh adikku juga sangat membutuhkan biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Namun kalau dipikir-pikir, jika aku tetap di kampung dan bekerja hanya sebagai penyedot emas, tentu tidak akan ada kemajuan yang kudapatkan. Meskipun kuliah tidak menghasilkan uang, namun aku yakin dengan pengalaman dan ilmu yang kuperoleh akan sangat berguna untuk menata kehidupanku selanjutnya. Pulang kampung hanya setahun sekali. Itupun kalau ada biaya. Jarak tempuh selama dua hari membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Melewati sungai selama berhari-hari jika sungai dalam keadaan surut untuk mencapai kampung halaman. Telponan dengan orang tua, hanya isak tangis yang menggambarkan betapa rindunya aku dengan mereka dan sebaiknya.”

Salut juga aku dengan tetanggaku ini, meskipun keadaan hidup yang tidak cemerlang, namun punya kemauan dan semangat yang tinggi untuk melakukan perubahan. Tidak mudah menyerah. Dan yang pasti selalu rendah hati juga taat beribadah. Hemm..semoga dirimu berhasil mewujudkan apa yang menjadi cita-citamu ya, selamat malam.

Palangka Raya, 21 Mei 2014


Selasa, 04 Maret 2014

Memberi




Sering dengar mitos bahwa ketika pacaran memberi barang terutama baju kepada pasangan akan tidak lama lagi putus. Namanya juga mitos, ada yang percaya dan ada yang nggak. Kucoba meneliti mitos ini. Pada hari Valentine kemaren aku sengaja membeli baju untuk seseorang. Ketika aku akan memberi, si dia malah tidak memberikan respon positif (walau pada akhirnya positif juga). Wajahnya menggambarkan raut ketidaksenangan terhadap apa yang kulakukan. 


“Semoga hubungan kita langgeng, yak..” selorohnya. Aku hanya diam dan berusaha untuk menyimpulkan dari mitos tersebut di atas. “Kamu percaya jika dikasih baju akan putus..?” Tanyaku. Sepertinya pikiran si dia telah teracuni dengan mitos di atas. Bahkan ketika itu juga dia menunjukkan sikap percaya mitos tersebut dengan mengucapkan kalimat semoga langgeng di atas. Tapi..entahlah, aku hanya berkesimpulan sendiri tentang hal ini.


Kembali pada penelitian..


Walau masih hanya sekedar hipotesis, namun memuat sedikit kesimpulan. Bahwa bukan pemberianlah yang menyebabkan semua hal buruk terjadi ketika menjalin hubungan. Suasana hatilah yang sangat berperan. Seperti pada kasus di atas, aku yang dengan semangat dan penuh cinta dalam memberi, menerima respon yang di luar dugaan tentu merasa kecewa dan sakit hati. Hanya kata “percuma” yang ada dipikiran. Percuma melakukan semua itu. Hal inilah yang membuat hubungan menjadi renggang. 


#Coba saja ditanggapi dengan sikap positif, tentu di lain pihak akan merasa dihargai. 



Minggu, 23 Februari 2014

Menikah



Aku sering mengumbar canda dengan teman-temanku, bahwa aku ingin menikah pada usia 23 tahun. hahaa usia yang masih sangat muda dan produktif. Sebenarnya hal tersebut adalah omongan iseng, namun jika benar-benar terjadi ya apa boleh buat heheee.

Menikah merupakan impian setiap pasangan yang sedang menjalin hubungan serius. Hmmm namun menikah bukanlah perkara yang mudah. Bukan hanya sepasang laki-laki dan perempuan yang dipertemukan, namun keluarga besar masing-masing pihak. Menjalaninya pun tidak semudah membalikkan telapak tangan, pasang surut kehidupan jika tidak sanggup maka bukan tidak mungkin pernikahan yang bahkan memasuki usia emas pun kandas.

Aku sering bertanya-tanya dalam angan-angan, bagaimana jika aku sudah berkeluarga nanti? Seperti apa pasangan hidupku kelak?, seperti apa anak-anakku kelak? Sungguh angan-angan yang konyol. Hal itu merupakan rahasia Yang Maha Kuasa.

Banyaknya contoh keluarga yang kandas membuat aku berpikir tujuh keliling untuk terlalu cepat menikah dan memilih seseorang untuk pendamping hidupku kelak.

Palangka Raya, 2 Juni 2013


Berat

Saat aku terakhir meninggalkan kos, ada perasaan sedih seketika menghinggapi setangkup hati kecilku. Di sudut ruang, kenangan manisku terukir bersama orang terkasih yang sudah tidak menginginkanku lagi. Kupandangi sebuah foto tak berbingkai yang menjadi saksi aku pernah bersamanya. Perasaan lain mengatakan aku harus memusnahkan itu semua. Kugunting menjadi bagian kecil yang tidak berbentuk lagi. Harapanku seiring musnahnya kenangan terakhir yang kusimpan, perasaan di hatiku dapat hilang tanpa bekas. 

Saat kupandangi sudut ruangan itu, perasaan sedihku semakin menjadi-jadi. Membentuk bulir-bulir bening yang mengalir di sudut mataku. Ya Tuhan… kapan aku benar-benar sembuh dari perasaan terluka ini. Bahkan ketika aku sudah dikenalkan pada sosok baru dalam hidupku, dia tetap menghantuiku. Aku sadar dan bahkan sangat sadar aku tidak akan berharap kembali. Namun perasaan sedih dan terluka itu selalu menyakiti pikiranku.